You are currently viewing Program Studi Teknologi Pangan ITERA Sosialisasikan Penggunaan dan Metode Pengujian Cepat Bahan Tambahan Pangan (BTP) kepada Siswa SMAN 1 Terbanggi Besar

Program Studi Teknologi Pangan ITERA Sosialisasikan Penggunaan dan Metode Pengujian Cepat Bahan Tambahan Pangan (BTP) kepada Siswa SMAN 1 Terbanggi Besar

Dosen dan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam bentuk sosialisasi kepada 223 orang siswa/I kelas XI SMAN 1 Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Dalam kegiatan tersebut, tim menyosialisasikan penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) disertai pendampingan pengujian cepat BTP berbahaya menggunakan test kit.

Kegiatan pengabdian ini diawali dengan pembukaan oleh dosen Program Studi Teknologi Pangan ITERA, Dea Tio Mareta, S.T.P., M.Sc. kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh ibu Triatmi, S.Pd. selaku WK Humas SMAN 1 Terbanggi Besar. Sesi selanjutnya diisi oleh Zada Agna Talitha, S.T.P., M.Si. yang memaparkan mengenai bahan tambahan pangan, dengan fokus utama mengenai bahan-bahan yang dilarang penggunaan pada pangan seperti formalin, boraks, rhodamin B dan lain sebagainya. Lebih lanjut, Zada menjelaskan mengenai bahaya konsumsi bahan tambahan yang dilarang terhadap kesehatan serta mengajak siswa/I untuk mengenali ciri-ciri dari pangan dengan BTP berbahaya tersebut. Setelah dilakukan pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Siswa/i SMAN 1 Terbanggi Besar sangat antusias dalam sesi kali ini. Siswa/i mengulik lebih dalam mengenai ciri-ciri makanan yang mengandung BTP berbahaya, bahaya yang dtimbulkan secara langsung dari pengonsumsiannya, dll. Dalam sesi diskusi ini juga dijelaskan bahwa sensitivitas tiap orang setelah mengonsumsi bahan-bahan berbahaya juga berbeda.

Selanjutnya, kegiatan diisi dengan praktik pengujian cepat BTP berbahaya (formalin dan rhodamin B) dengan menggunakan test kit sebagai alat screening. Pada sesi ini, sampel yang digunakan ialah kerupuk merah dan ikan asin yang beredar di pasaran, dan dibandingkan dengan standar sebagai kontrol positif untuk melihat perbedaannya. Pengujian yang dilakukan cukup sederhana dengan partisipasi beberapa siswa/i yang ingin mencoba pengujian. Hasil akhir dari pengujian dapat ditentukan dari warna yang terbentuk pada larutan. Praktik langsung yang dilakukan membuat siswa/i menjadi tahu bahwa pengujian BTP berbahaya seperti formalin dan rhodamin B sangat mudah untuk dilakukan. Dengan penyelenggaraan sosialisasi ini, siswa/I SMAN 1 Terbanggi Besar juga diharapkan memiliki pemahaman dan mampu berkontribusi dalam pengawasan penggunaan bahan yang tidak seharusnya ditambahkan dalam makanan.

Leave a Reply