You are currently viewing Studium Generale Wonderfoody Mengangkat Tema Tempe: Warisan Budaya Menuju Pangan Fungsional Masa Depan

Studium Generale Wonderfoody Mengangkat Tema Tempe: Warisan Budaya Menuju Pangan Fungsional Masa Depan

Pada tanggal 29 Oktober 2026, Program Studi Teknologi Pangan ITERA menyelenggarakan Studium Generale Wonderfoody 2026 yang mengangkat tema “Tempe: Warisan Budaya Menuju Pangan Fungsional Masa Depan”  di Aula Gedung Kuliah Umum 1 Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Acara ini merupakan hasil kolaborasi Program Studi Teknologi Pangan ITERA, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Cabang Bandar Lampung, dan Forum Tempe Indonesia Cabang Lampung, untuk membahas potensi tempe sebagai pangan tradisional Indonesia yang dapat dikembangkan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi guna meningkatkan nilai tambahnya.

Dalam studium generale ini, para peserta, yang terdiri dari mahasiswa berbagai bidang studi di ITERA, Universitas Lampung, dan Politeknik Negeri Lampung, tidak hanya diberikan pemahaman teoritis tetapi juga diajak untuk berdiskusi dan bertukar gagasan tentang potensi tempe sebagai pangan fungsional. Acara ini menarik perhatian banyak mahasiswa, yang hadir dengan semangat dan antusiasme tinggi untuk belajar lebih dalam mengenai topik yang relevan dengan masa depan pangan dunia ini.

Tidak hanya itu, Program Studi Teknologi Pangan ITERA juga mengundang  tiga pemateri yaitu Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Si., Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia Cabang Bandar Lampung, memaparkan inovasi Tempe Mosaka melalui modifikasi ragi untuk meningkatkan kandungan beta-glukan. Hasil penelitian yang disampaikan menunjukkan kandungan beta-glukan Tempe Mosaka mencapai 0,48%, lebih tinggi dibandingkan tempe konvensional lainya. Ibu Dwi Eva Nirmagustina, S.P., M.Si., Ph.D., Ketua Forum Tempe Indonesia Cabang Lampung, mengulas perkembangan tempe dari pangan tradisional menjadi produk bernilai tambah, mulai dari tepung tempe hingga plant-based meat, mengolah tempe menjadi ekstrak dan suplemen, serta menyoroti pentingnya standardisasi produksi, keamanan pangan, inovasi, dan strategi pemasaran untuk meningkatkan daya saing tempe. Ibu Okti Ruenda, S.T.P., M.T.P., dosen Teknologi Pangan ITERA, menjelaskan potensi senyawa bioaktif tempe, khususnya isoflavon yang memiliki aktivitas antioksidan, serta kaitan antara kesehatan usus dan kulit. Ketiga pembicara tersebut membagikan wawasan yang berharga, membahas secara mendalam mengenai pengembangan tempe dari sisi ilmu pengetahuan, teknologi, dan penerapannya dalam industri pangan. Para mahasiswa yang hadir diharapkan dapat memperoleh sudut pandang baru melalui pemaparan materi dari ketiga pembicara serta menggali informasi lebih lanjut mengenai perkembangan tempe di Indonesia.

Secara keseluruhan, acara ini berhasil menciptakan suasana yang penuh dengan semangat belajar dan diskusi yang produktif. HIMATEPA dan Program Studi Teknologi Pangan ITERA berharap melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat semakin menyadari pentingnya peran mereka dalam melestarikan tempe sebagai warisan budaya Indonesia dan mengembangkan potensinya menjadi pangan fungsional melalui inovasi teknologi pangan.

Tinggalkan Balasan