You are currently viewing ITERA melakukan sosialisasi MOCAF sebagai Solusi Hilirisasi Singkong dan Penguatan Ekonomi Lampung

ITERA melakukan sosialisasi MOCAF sebagai Solusi Hilirisasi Singkong dan Penguatan Ekonomi Lampung

Dalam upaya menjawab tantangan ketahanan pangan, energi, air, dan lingkungan, serta permasalahan strategis Provinsi Lampung seperti kemiskinan, pengangguran, dan stunting, ITERA melakukan kegiatan sosialisasi bertema inovasi hilirisasi singkong melalui pengembangan Modified Cassava Flour (MOCAF) yang diselenggarakan pada 4 Maret 2026, di aula GKU 1 ITERA.

Lampung dikenal sebagai salah satu sentra produksi singkong terbesar di Indonesia. Namun hingga saat ini, sektor ini masih didominasi produksi bahan baku mentah dengan nilai tambah rendah. Minimnya industri pengolahan menengah dan kurangnya diversifikasi produk menyebabkan posisi tawar petani relatif lemah serta ketergantungan pada pasar terbatas.

Dalam paparannya, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha menyoroti dinamika terbaru terkait kebijakan penetapan harga singkong sebesar Rp1.350/kg. “Kebijakan harga Rp1.350 per kilogram sebenarnya bertujuan melindungi petani agar tidak terus menjual dengan harga rendah. Namun di lapangan, industri pengolahan belum mampu menyerap bahan baku pada harga tersebut. Ketika industri tidak membeli, singkong tidak terjual. Ini yang kemudian memicu protes dan membuat sebagian petani memilih tidak menanam kembali,” jelas beliau.

Ia menambahkan bahwa permasalahan tersebut menunjukkan pentingnya solusi struktural, bukan hanya kebijakan harga semata. Sebagai solusi strategis, kegiatan ini mengangkat inovasi MOCAF (Modified Cassava Flour) sebagai bentuk pengolahan singkong bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan.

MOCAF merupakan tepung singkong termodifikasi yang dihasilkan melalui proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium. Melalui proses ini, pati kompleks dalam singkong diubah menjadi karbohidrat yang lebih sederhana (oligosakarida), sehingga menghasilkan produk yang bebas gluten, lebih mudah dicerna, berpotensi sebagai prebiotik, serta memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan singkong mentah.

Proses produksi MOCAF yang diperkenalkan tidak hanya berfokus pada tepung sebagai produk utama, tetapi juga mengusung konsep produksi terintegrasi berbasis zero waste. Tahapannya meliputi persiapan dan pengupasan bahan baku, pemarutan atau pengirisan, fermentasi, pengendapan pati, hingga pemisahan menjadi MOCAF, larutan probiotik, dan hasil samping lainnya. Ampas singkong yang dihasilkan kemudian dikeringkan dan difermentasi menggunakan Trichoderma untuk dijadikan pakan ternak (tempe atau bungkil mocaf). Sementara itu, air hasil fermentasi dapat dimanfaatkan sebagai probiotik ternak sekaligus digunakan kembali sebagai starter fermentasi berikutnya. Kulit terluar singkong juga tidak terbuang, melainkan dikeringkan dan diproses dengan penambahan bubuk kapur untuk menghasilkan bahan alternatif yang berpotensi sebagai agen pemadam api ramah lingkungan.

Sebagaimana disampaikan oleh Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, bahwa konsepnya bukan sekadar membuat tepung, tetapi membangun ekosistem industri berbasis singkong yang terintegrasi dan minim limbah. Jika ini dikembangkan secara serius, dampaknya bisa signifikan terhadap kesejahteraan petani dan penciptaan lapangan kerja. Melalui inovasi MOCAF ini, diharapkan tercipta peningkatan nilai tambah komoditas lokal, tumbuhnya industri pengolahan menengah di Lampung, serta kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan dan pengurangan stunting. Kegiatan ini menjadi momentum kolaborasi antara akademisi, petani, industri, dan pemerintah dalam membangun agroindustri singkong Lampung yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Leave a Reply