Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melalui Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan limbah kepala ikan teri jengki menjadi kerupuk bernilai tambah di Balai Pulau Pasaran, Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema “Penguatan Ekonomi Pesisir Berkelanjutan Melalui Pengolahan Limbah Kepala Ikan Teri Jengki di Pulau Pasaran” dengan skema PkM berbasis kepakaran yang juga mencakup perancangan mesin pengering tenaga surya.

Program tersebut melibatkan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan dan Program Studi Teknik Mesin ITERA yang berkolaborasi mendampingi masyarakat dalam mengembangkan inovasi pengolahan hasil perikanan berbasis potensi lokal. Kegiatan ini menjadi implementasi nyata sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat langsungĀ dimanfaatkan oleh warga.
Pulau Pasaran selama ini dikenal sebagai sentra pengolahan ikan teri terbesar di Kota Bandar Lampung. Tingginya aktivitas pengolahan tersebut menghasilkan limbah kepala ikan teri jengki dalam jumlah yang cukup besar. Selama ini limbah tersebut umumnya hanya dimanfaatkan sebagai bahan campuran dedak atau pelet pakan ternak sehingga memiliki nilai ekonomi yang relatif rendah. Padahal, kepala ikan teri masih mengandung protein, lemak, dan berbagai mineral yang berpotensi diolah menjadi produk pangan bernilai tambah.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan dengan teknologi pengolahan limbah kepala ikan teri jengki menjadi kerupuk yang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk khas Pulau Pasaran. Selain meningkatkan nilai jual limbah hasil perikanan, inovasi ini juga diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir.
Sosialisasi diawali dengan pemaparan mengenai mesin pengering tenaga surya yang dirancang sebagai solusi atas kendala proses penjemuran saat cuaca kurang mendukung. Mesin tersebut memanfaatkan energi matahari melalui ruang pengering tertutup sehingga panas dan sirkulasi udara dapat bekerja lebih optimal. Dengan teknologi ini, proses pengeringan menjadi lebih efisien, produk lebih terlindungi dari debu maupun kontaminasi, serta tidak sepenuhnya bergantung pada intensitas sinar matahari secara langsung.
Selanjutnya, tim KKN Rekognisi memberikan pelatihan mengenai tahapan pembuatan kerupuk kepala ikan teri jengki, mulai dari persiapan bahan baku, pengolahan kepala ikan menjadi tepung, pencampuran adonan, pembentukan, perebusan, pengirisan, pengeringan, hingga penggorengan dan pengemasan. Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya penerapan sanitasi dan keamanan pangan agar produk yang dihasilkan memiliki mutu yang baik dan aman dikonsumsi.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, tim juga melakukan demonstrasi pembuatan kerupuk secara langsung sehingga masyarakat dapat melihat sekaligus mempraktikkan setiap tahapan proses produksi. Demonstrasi tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat, khususnya pelaku usaha pengolahan ikan dan ibu-ibu PKK yang hadir dalam kegiatan.
Salah seorang peserta, Ibu Ito, mengaku memperoleh banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan wawasan baru mengenai pengolahan limbah ikan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kegiatannya sangat positif karena memberikan ilmu kepada ibu-ibu di Pulau Pasaran. Sekarang kami jadi tahu kalau kepala ikan teri bisa diolah menjadi makanan yang bisa dikonsumsi sendiri maupun dijual,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pelatihan ini membuatnya lebih percaya diri untuk mencoba memproduksi kerupuk secara mandiri karena telah memperoleh formulasi dan tahapan pembuatan yang jelas.
Melalui kegiatan ini, ITERA kembali menegaskan komitmennya sebagai Kampus Berdampak yang menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat pesisir diharapkan mampu mendorong hilirisasi limbah hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mengurangi limbah produksi melalui inovasi teknologi yang berkelanjutan.


