TP ITERA Hadiri FGD dan Pembentukan Forum Komunikasi Pelaku Usaha dan Ahli Teknologi Pati

TP ITERA Hadiri FGD dan Pembentukan Forum Komunikasi Pelaku Usaha dan Ahli Teknologi Pati

Lampung – Seluruh dosen Teknologi Pangan, Teknik Biosistem, dan Teknologi Industri Pertanian Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menghadiri undangan Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lampung dalam acara Focus Group Discussion (FGD), Pembentukan Forum Komunikasi dan Temu Bisnis Pelaku Usaha dan Ahli Teknologi Pati, pada Selasa (15/5). Dalam acara tersebut, ITERA mendapat kesempatan untuk mempresentasikan Teknologi Peralatan Pengolahan Pasca Panen Sumber Daya Pati, yang diwakili oleh Dosen ITERA, Amna Citra F., S.TP., M.Sc.

Turut pula beberapa lembaga pemerintahan, akademisi, dan gabungan asosiasi pelaku usaha, yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Lampung, Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, Pusat Perumusan Standar BSN, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Balai Rise dan Standarisasi Industri Bandar Lampung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Bandar Lampung, Universitas Lampung, dan Politeknik Negeri Lampung.

Lampung dinilai memiliki potensi penghasil singkong dan tapioka terbesar di Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Ir. Mulyadi Irsan, Kepala Bappeda Lampung. “Lampung dapat menghasilkan 7,4 juta ton ubi kayu dengan luas lahan mencapai 279 ribu hektar,” ujar Mulyadi. “Sayangnya,” lanjutnya, “berdasarkan dari hasil penelitian National University Singapore (NUS), belum ada rekomendasi pengolahan sekunder dari ubikayu di Lampung, sehingga hal tersebut mengakibatkan bisnis ini belum terlalu menarik.”

Dosen ITERA, Amna Citra, turut memberikan masukan mengenai proses produksi tapioka di Indonesia. Dalam pemaparannya, Amna Citra memaparkan bahwa pembuatan tapioka di Indonesia sangat berbeda dengan di luar negeri. “Pembuatan tapioka di Indonesia umumnya masih menggunakan peralatan manual maupun semi manual, sedangkan seluruh proses pembuatan tapioka di luar negeri sudah full mesin,” ungkapnya.

Proses pembuatan tapioka di Indonesia umumnya masih menggunakan cara tradisional, yaitu pati diendapkan di kolam-kolam, lalu dilakukan proses penjemuran, baik dengan sinar matahari maupun oven. Di Thailand dan Australia, misalnya, proses ini sudah menggunakan sentrifugasi dan siklon sehingga jauh lebih cepat.

Pada acara tersebut, secara resmi juga dibuka forum komunikasi Pelaku Usaha dan Ahli Teknologi Pati yang digagas oleh BPPT. Forum komunikasi yang diberi nama “FORPATI” tersebut disambut hangat oleh berbagai pelaku usaha dan akademisi. BPPT juga secara resmi mengumumkan peluncuran kafe “De Cassava” sebagai upaya mendukung ubikayu sebagai penggerak ekonomi masyarakat Lampung.  (HAP)

This Post Has 2 Comments

  1. Mohon diperbaiki tanggal pembuatan berita tidak sesuai dengan isi dalam berita menyebutkan (15/5) tapi tanggal pembuatan berita 21 Februari 2018.
    Terima kasih

Leave a Reply

Close Menu
Close Panel